Jakarta (ANTARA News) - Film dokumenter bertajuk "Hungry is The Tiger" (Harimau yang Lapar) terpilih untuk diputar di "Asiatica Film Mediale", festival film bergengsi di Roma, Italia.

Produser Hashim Djojohadikusumo, di Jakarta, Selasa mengatakan, film itu produksi berkualitas internasional hasil kerjasama tim gabungan dari Indonesia dan dari luar negeri.

"Ini adalah prestasi yang membanggakan bagi industri kreatif Indonesia sekaligus pelecut semangat anak bangsa untuk terus mempersembahkan karya-karya Indonesia terbaik ke dunia Internasional," kata Hashim Djojohadikusumo yang memproduseri film dokumenter tersebut melalui PT Media Desa Indonesia, perilis film drama perjuangan "Merah Putih".

Film dokumenter yang melibatkan Christine Hakim dan Sudjiwo Tejo di dalamnya itu bercerita tentang krisis pangan dunia, kelaparan, dan kekurangan gizi dengan latar belakang wilayah Gujarat dan Rajasthan di India serta sejumlah daerah di Jawa, Bali dan Sumba, Indonesia.

Sinematografi karya Yadi Sugandi menggambarkan Asia Selatan yang hancur oleh serangkaian krisis keuangan, jatuhnya harga komoditi dan kekurangan pangan.

Film tersebut juga menggambarkan betapa negara Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam namun sebagian penduduknya masih miskin dan sulit mendapatkan bahan makanan pokok.

"Dalam film ini kami bukan hanya menggambarkan soal krisis pangan dunia, kekurangan gizi, serta kelaparan namun menawarkan solusi atas permasalahan tersebut," katanya.

Ia menyebutkan, solusi yang ditawarkan dalam film itu adalah bagaimana mengembangkan peternakan sapi yang dianggap bisa menjadi jalan keluar untuk mengatasi kekurangan gizi karena bisa menghasilkan susu sekaligus untuk mengembangkan perekonomian masyarakat petani.

Film tersebut akan dipertunjukkan pada 1 dan 2 November pada perhelatan festival film Asiatica Film Mediale di Roma, Italia.

Festival tersebut mempersembahkan film-film asia terbaik serta menyelenggarakan beberapa seminar dan kelompok diskusi yang membahas berbagai masalah ekonomi, politik dan keuangan di Asia dan bagian dunia lainnya.

Pemutaran "Hungry Is The Tiger" ini juga merupakan pembuka bagi "World Food Summit" yang diselenggarakan oleh PBB pada 16 hingga 18 November di kota yang sama sebagai wadah dari berbagai organisasi yang membahas mengenai krisis kelaparan dunia.(*)

---------------------------------------------------------

Inilah hal yang membanggakan, ketika topik tentang Inodnesia begitu dihargai, ketika kesederhanaan dan penderitaan sangat mendapat apresiasi

tentu sangat jauh dibandingkan dengan rencana pembuatan film Miyabi, dengan ide cerita yang sangat tidak membanggakan negeri ini, malah bisa membuat citra Indonesia semakin terpuruk dalam hal ide dan karya kreatif

semoga hal ini bisa memicu tumbuhnya film-film yang lebih banyak mengandung pesan moral untuk para penontonnya, baik di dalam maupun luar negeri

Jakarta (ANTARA News) - Film dokumenter bertajuk "Hungry is The Tiger" (Harimau yang Lapar) terpilih untuk diputar di "Asiatica Film Mediale", festival film bergengsi di Roma, Italia.

Produser Hashim Djojohadikusumo, di Jakarta, Selasa mengatakan, film itu produksi berkualitas internasional hasil kerjasama tim gabungan dari Indonesia dan dari luar negeri.

"Ini adalah prestasi yang membanggakan bagi industri kreatif Indonesia sekaligus pelecut semangat anak bangsa untuk terus mempersembahkan karya-karya Indonesia terbaik ke dunia Internasional," kata Hashim Djojohadikusumo yang memproduseri film dokumenter tersebut melalui PT Media Desa Indonesia, perilis film drama perjuangan "Merah Putih".

Film dokumenter yang melibatkan Christine Hakim dan Sudjiwo Tejo di dalamnya itu bercerita tentang krisis pangan dunia, kelaparan, dan kekurangan gizi dengan latar belakang wilayah Gujarat dan Rajasthan di India serta sejumlah daerah di Jawa, Bali dan Sumba, Indonesia.

Sinematografi karya Yadi Sugandi menggambarkan Asia Selatan yang hancur oleh serangkaian krisis keuangan, jatuhnya harga komoditi dan kekurangan pangan.

Film tersebut juga menggambarkan betapa negara Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam namun sebagian penduduknya masih miskin dan sulit mendapatkan bahan makanan pokok.

"Dalam film ini kami bukan hanya menggambarkan soal krisis pangan dunia, kekurangan gizi, serta kelaparan namun menawarkan solusi atas permasalahan tersebut," katanya.

Ia menyebutkan, solusi yang ditawarkan dalam film itu adalah bagaimana mengembangkan peternakan sapi yang dianggap bisa menjadi jalan keluar untuk mengatasi kekurangan gizi karena bisa menghasilkan susu sekaligus untuk mengembangkan perekonomian masyarakat petani.

Film tersebut akan dipertunjukkan pada 1 dan 2 November pada perhelatan festival film Asiatica Film Mediale di Roma, Italia.

Festival tersebut mempersembahkan film-film asia terbaik serta menyelenggarakan beberapa seminar dan kelompok diskusi yang membahas berbagai masalah ekonomi, politik dan keuangan di Asia dan bagian dunia lainnya.

Pemutaran "Hungry Is The Tiger" ini juga merupakan pembuka bagi "World Food Summit" yang diselenggarakan oleh PBB pada 16 hingga 18 November di kota yang sama sebagai wadah dari berbagai organisasi yang membahas mengenai krisis kelaparan dunia.(*)

---------------------------------------------------------

Inilah hal yang membanggakan, ketika topik tentang Inodnesia begitu dihargai, ketika kesederhanaan dan penderitaan sangat mendapat apresiasi

tentu sangat jauh dibandingkan dengan rencana pembuatan film Miyabi, dengan ide cerita yang sangat tidak membanggakan negeri ini, malah bisa membuat citra Indonesia semakin terpuruk dalam hal ide dan karya kreatif

semoga hal ini bisa memicu tumbuhnya film-film yang lebih banyak mengandung pesan moral untuk para penontonnya, baik di dalam maupun luar negeri

Jakarta (ANTARA News) - Film dokumenter bertajuk "Hungry is The Tiger" (Harimau yang Lapar) terpilih untuk diputar di "Asiatica Film Mediale", festival film bergengsi di Roma, Italia.

Produser Hashim Djojohadikusumo, di Jakarta, Selasa mengatakan, film itu produksi berkualitas internasional hasil kerjasama tim gabungan dari Indonesia dan dari luar negeri.

"Ini adalah prestasi yang membanggakan bagi industri kreatif Indonesia sekaligus pelecut semangat anak bangsa untuk terus mempersembahkan karya-karya Indonesia terbaik ke dunia Internasional," kata Hashim Djojohadikusumo yang memproduseri film dokumenter tersebut melalui PT Media Desa Indonesia, perilis film drama perjuangan "Merah Putih".

Film dokumenter yang melibatkan Christine Hakim dan Sudjiwo Tejo di dalamnya itu bercerita tentang krisis pangan dunia, kelaparan, dan kekurangan gizi dengan latar belakang wilayah Gujarat dan Rajasthan di India serta sejumlah daerah di Jawa, Bali dan Sumba, Indonesia.

Sinematografi karya Yadi Sugandi menggambarkan Asia Selatan yang hancur oleh serangkaian krisis keuangan, jatuhnya harga komoditi dan kekurangan pangan.

Film tersebut juga menggambarkan betapa negara Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam namun sebagian penduduknya masih miskin dan sulit mendapatkan bahan makanan pokok.

"Dalam film ini kami bukan hanya menggambarkan soal krisis pangan dunia, kekurangan gizi, serta kelaparan namun menawarkan solusi atas permasalahan tersebut," katanya.

Ia menyebutkan, solusi yang ditawarkan dalam film itu adalah bagaimana mengembangkan peternakan sapi yang dianggap bisa menjadi jalan keluar untuk mengatasi kekurangan gizi karena bisa menghasilkan susu sekaligus untuk mengembangkan perekonomian masyarakat petani.

Film tersebut akan dipertunjukkan pada 1 dan 2 November pada perhelatan festival film Asiatica Film Mediale di Roma, Italia.

Festival tersebut mempersembahkan film-film asia terbaik serta menyelenggarakan beberapa seminar dan kelompok diskusi yang membahas berbagai masalah ekonomi, politik dan keuangan di Asia dan bagian dunia lainnya.

Pemutaran "Hungry Is The Tiger" ini juga merupakan pembuka bagi "World Food Summit" yang diselenggarakan oleh PBB pada 16 hingga 18 November di kota yang sama sebagai wadah dari berbagai organisasi yang membahas mengenai krisis kelaparan dunia.(*)

---------------------------------------------------------

Inilah hal yang membanggakan, ketika topik tentang Inodnesia begitu dihargai, ketika kesederhanaan dan penderitaan sangat mendapat apresiasi

tentu sangat jauh dibandingkan dengan rencana pembuatan film Miyabi, dengan ide cerita yang sangat tidak membanggakan negeri ini, malah bisa membuat citra Indonesia semakin terpuruk dalam hal ide dan karya kreatif

semoga hal ini bisa memicu tumbuhnya film-film yang lebih banyak mengandung pesan moral untuk para penontonnya, baik di dalam maupun luar negeri


 

info grosirSponsored by lowongan kerja terbaru 2009